MENGOBATI (HATI) YANG TERLUKA

Kemarin, seorang sahabat menelepon saya sambil tersedu sedan. Katanya dia sedang bingung, ada laki laki dari masa lalu yang dulu menggantungkan statusnya. Padahal selama ini sudah berusaha dia lupakan, tapi mas nya kembali menghubungi dirinya. Itu sepertinya membuat luka lama yang belum kering benar, kembali terbuka.

(more…)

Advertisements

Nge-Camp di Watu Kodok

P_20170513_065543

Hallo blog saya yang sudah mulai jamuran, sampai muncul aflatoksin nya segala #eh macam jagung dan kacang kacangan saja. Berbulan bulan tidak ada tulisan baru, konten sih banyak yang menarik tapi terendam dan meng-ngerak di draft. Wacana tetap wacana buat nulis lantaran hilang selera saya buat sekedar nulis curhat di sini :p.

 Tapi setelah semedi malam tadi di sebuah pantai selatan, insyaallah saya mau mulai nulis lagi deh hhoo. Dan yang pertama saya mau kasih review tempat wisata alternatif yang oke ini. Mungkin kalian yang berkunjung ke Jogja sudah tau ya betapa tersohornya pantai pantai di Gunung Kidul ada Indrayanti, Timang, Baron, Sepanjang, Kukup, Krakal, Ndrini, dan buanyaaak sekali.

Nah, salah satu yang baru (saya sih yang baru dengar :p) nama nya Pantai Watu Kodok. Saya belum sempat cari tahu kenapa ini pantai dinamakan watu kodok. Mungkin karena ada watu yang berarti batu dalam bahasa jawa yang berbentuk kodok? Nyata nya saya cari kok ya ga ada, apa saya yang kurang peka ya.

Pantai Watu Kodok ini terletak dalam deretan pantai Baron, Kukup, dan Sepanjang. Butuh waktu sekitar 2 jam kurang lebih jika ditempuh dari kota Yogyakarta. Dari segi pemandangan sebenarnya pantai ini mirip mirip karakteristiknya dengan pantai gunung kidul di sekitarnya, ya pasir putih dan tebing karst. Tapi yang jadi menarik adalah pantai ini menjadi terkenal di media sosial sebagai pantai yang direkomendasikan untuk nge-camp disana.

Saya pun jadi tertarik mencoba, bersama dua orang sahabat saya Nurin dan Fadhillah (sesungguhnya mereka yang ngebet banget minta nge-camp di pantai :p) kami pun berangkat dengan semangat membara dan tekad baja. Setelah mendaki gunung lewati lembah kami pun sampai di Watu Kodok dan memarkir kendaraan di salah satu penyedia jasa penitipan motor.

P_20170512_173945

disambut senja 🙂

 Melihat barang kami yang sangat banyak, ibu penjaga pun bertanya,

Ibu penjaga     : Mau nge-camp mbak?

Saya                : Iya bu (tersenyum sumringah saking bahagianya melihat pantai)

Ibu penjaga     : Oh ya, berberapa orang mbak rombonganya?

Saya                : Ini bu, kami bertiga

Ibu penjaga: Ha? Cah wedok wedok kendel banget, gak takut nih? (anak perempuan perempuan kok berani banget, gak takut?)

Saya             : Hahahaha mboten nopo nopo bu, lha kan banyak to bu yang nge-camp? Sudah ada berapa orang bu yang mau nge-camp malam ini? (ngomong dengan penuh percaya diri)

Ibu penjaga     : Wah, belum ada kayaknya mbak. Ini kan hari Jum’at sepi mbak, yang ramai itu besok hari Sabtu mbak malam Minggu.

Kami               : (saling berpandangan satu dengan yang lain) bwahahahahahaah (sontak tertawa miris miris bagaimana begitu) :’D

Ibu penjaga     : Tenang mbak, nanti saya temani dari sini (red: warung dan titipan motor)

Berhubung kami berangkat ke sorean dan waktu sudah menjelang maghrib kami pun memutuskan untuk beristirahat sejenak dan sholat maghrib di mushola. Ini nih salah satu yang membuat pantai ini recomended yaitu fasilitasnya lengkap, mulai dari toilet yang banyak, tempat makan yang buanyak, dan tentu ada mushola. Walaupun ada banyak bangunan tapi menurut saya lumayan tertata rapih dan bersih jadi ya cukup nyaman.

Matahari mulai tenggelam di peraduan, berganti dengan cahaya bulan purnama lan rupawan. Angin yang mulai kencang dan debur ombak yang semakin kencang meninggi seiring tingginya bulan purnama, hingga getaran dentum ombaknya terasa sampai daratan.

Duh ya, kami lupa ini kan malam bulan purnama! Lho? Terus kenapa? Ada GGS (srigala ganteng :p) po? Bukan, bukan, bulan purnama berarti ini air laut akan pasang tinggi, pantas deburanya sampai sebegitunya. Bahkan nyali kami sempat ciut mendengar perpaduan dentuman ombak yang menggetarkan tanah dan juga hati kami ditambah malam yang gulita (purnama nya masih agak malu bersembunyi di remang awan) hingga ada niat terbersit untuk bermalam saja di mushola tidak jadi bangun tenda.

Duh duh duh, anak muda mbok hati nya yang kuat sedikit, bangun tenda saja pakai galau bagaimana mau bangun rumah tangga? #eh. Akhirnya setelah menguatkan hati hati nan gundah, saya pun berkeliling mencari tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda. Alhamdulillah dapat tempat enak di tepi pantai, dekat dengan mushola, toilet, dan warung (yang ibu dan bapaknya tidurnya disana jadi aman lah ya ada kawan nya :D).

Waktu sudah menunjukan pukul 19.00 angin semakin kencang berhembus, kami belum juga mulai membangun tenda. Ternyata ternyata kedua teman saya belum pernah bangun tenda baru searching caranya di youtube hahahaaha (bilang dong sayang kuu :3). Duh, saya sudah lama banget ini gak camping-camping-an, semoga ingatan saya bisa diandalkan.

Dan taraaaaa!!! Alhamdulillah saya masih ingat ternyata caranya bikin tenda :D.

P_20170512_195820

tenda kami

Malam semakin larut, bulan pun meninggi dan mulai menampakan diri. Terang sekali, lautnya seperti disinari senter raksasa syahdu berpadu dengan deburan ombak dan semilir angin. Sekitar jam 10-an lebih ternyata ada rombongan adik adik mahasiswa datang sekitar 20an orang dan membangun tenda didekat kami, Alhamdulillah ramai juga, semakin nyenyak tidur nya.

Hahaha ini mau menyepi atau apa sih malah mencari keramaian? :p

Well, buat kamu yang ingin nyobain nge-camp disini juga, bisa kok. Datang saja bawa perlengkapan camping lengkap, karena disini tidak ada persewaan tenda dll sepertinya. Harga tiket masuk sama untuk semua pantai yaitu Rp. 10.000 biaya parkir motor Rp. 5.000 per malam.

Tidak ada pendaftaran atau pendataan seperti layaknya kalau kita naik gunung ya. Langsung saja cari lapak untuk mendirikan tenda. Keesokan harinya saat sudah mau kukut kukut (red:berberes) memberikan uang Rp.1.000 per orang sebagai biaya kebersihan ke bapak penjaga nya.

P_20170513_083847

tiket masuk (duh abaikan tangan saya yang kotor sehabis beresin tenda :P)

Ya walaupun ada uang kebersihanya tetap jaga kebersihan lo gengs, jaga sampahnya ya disana banyak tempat sampah kok. Untuk fasilitas disana lengkap ada toilet banyak tarifnya untuk buang air kecil Rp. 2000 untuk mandi Rp. 3000. Ada mushola juga, tapi lebih syahdu sholat beratapkan bintang dan rembulan ditemani semilir angin dan deburan ombak sih.

Buat yang perempuan perempuan yang mau nge-camp juga, insyaallah aman. Warung yang berjejer itu buka 24 jam. So, selain kamu ga bakal kelaparan kalau gak bawa perlengkapan masak, ada yang jagain juga para pemilik warung. Soalnya bapak, atau ibu nya suka tidur di teras warungnya sambil jaga warung.

 Bagaimana? Tertarik untuk mencoba?

P_20170513_060820

masak apa kita?

P_20170513_071411

di atas, karena di bawah airnya pasang

P_20170513_070923

nurin dan mentari pagi 🙂

CERMIN

Hallo kita..

Iya kita, kaum hawa 😁

Coba cek apa di tas harian mu ada cermin?

Saya yakin ada, iya pasti ada kan? #maksa

Minimal cermin bedak hhee

Ya kalaupun gak bawa, kamu pasti akan sering pergi ke toilet. Iya tau, bukan buat buang sesuatu tapi buat ngaca kan?

Bahkan se nggak ada adanya kaca, saking bergantungnya perempuan dan cermin bakalan ngaca di mata teman mu (ini jaman anak sekolahan banget) sekarang sih udah ada kamera depan ya. Hayo ngaku 😂

Dan pastinya tidak akan melewatkan sedikitpun kemampuan barang yang berkilau dan bisa memantulkan bayangan untuk ngaca.

Masih nggak ngaku? Hhehe

Yah perempuan mana sih yang gak gemes lihat cermin 😂 dan rela berlama lama didepan cermin.

Okay lah ya perempuan begitu untuk memastikan penampilan nya tetap baik, jilbab masih tetap dalam bentuknya, rambut gak ada yang nongol2, lipen dan bedak masih pada tempatnya #lho??? 

Tapi sadar ga? Mungkin memang begitu sifat perempuan, disuruh banyak banyak ngaca. Disuruh banyak banyak bercermin.

Bercermin yang lebih dalam dari sekedar bercermin secara  fisik.

Tapi, bercermin buat evaluasi diri

Bercermin buat evaluasi hati

Bercermin buat evaluasi perilaku

Agar tidak jadi bagian dari mayoritas penghuni neraka.

Duh Gusti, selamatkan kami…

Emotional Eating

Kamu pernah mendengar istilah emotional eating?

Saya sih baru dengar beberapa hari belakangan ini, setelah tidak sengaja menemukan video pengaruh weight loss dan emotional eating. Ok! Saya bukan mau bahas si video itu, tapi si emotional eating (EE).

Ya walau baru pertama kali dengar, tapi saya yakin setiap kita pernah mengalami EE. Seperti kamu yang punya kebiasaan makan coklat saat sedih, makan eskrim kalau sedang bad mood, asal gak makan temen aja ya.

Nah kalau saya rangkum menurut beberapa sumber, Emotional Eating adalah peningkatan nafsu makan seseorang karena dipengaruhi efek emosi. Orang orang yang mengalami emotional  eating percaya bahwa makan akan dapat mengurangi dampak emosi buruk yang sedang di rasakan seperti sedih, marah, takut, gelisah, gundah, gulana, tertekan dll.

Akibatnya orang yang mengalami EE cenderung makan banyak. Semakin banyak intake makanan mereka berharap akan merasa lebih baik. Parah nya makanan yang dipilih pasti yang lezat lezat yang high sugar, high fat, high MSG dll. Pokoknya cuma untuk pemuas nafsu doang bukan pemuas perut.

Nyata nya dari beberapa penelitian menyebutkan kalau tindakan tersebut tidak benar. Ini malah dapat menyebabkan orang tersebut tidak dapat mengontrol nafsu makannya. Yang ada bukan perasaan emosi yang bertambah baik malah datang nya penyakit.

Yang membuat bahaya adalah jika kebiasaan ini terus bsrlanjut. Misal sedih dikit langsung makan es krim banyak banyak. Merasa kesepian dikit makan micin banyak banyak. Padahal perasaan mu ga berubah sama sekali sis setelah makan.

Disebutkan dalam penelitian tersebut terjadinya emotional eating yang tidak terkontrol dapat meningkatkan resiko penyakit cardiovaskular.

Duh duh duh kok ya ngeri.

Hayo kamu pernah mengalami nya kan?

Ya saya juga baru saja mengalami nya. Sebulan belakangan alhamdulillah saya berhasil menjalani pola makan diet ala ala less carbo. Gak keto diet sih, yang penting gak konsumsi nasi da gula. Selebihnya perbanyak sayur buah. Dan semua berantakan setelah saya seminar kemajuan penelitian. Hahahaha maklum saya kalap dan khilaf butuh micin dan gula. Sampai sekarang pola makan masih berantakan, baru mau diperbaiki lagi 😜.

Alhamdulillah nemu istilah emotional eating dan ternyata hal ini gak baik kalau di biarkan. So yuk mulai bedakan mana keinginan makan karena lapar fisik dan mana lapar yang emosional. Yuk balik ke pola makan sehat.

Karena yang fisik diobati dengan fisik, yang luka hati diobati dengan obat hati #eh.

Semoga semua sehat fisik, hati, dan fikiran ya gengs 😘.
Mutiara Ulfah

-menulis ini setelah khilaf makan cilok, es oyen, dan cemil cemil cantik-

Trauma?

Beberapa hari lalu terjadi gempa, rindu lindu sih ya dengan kekuatan 3,6 SR pusat di 14km tenggara Bantul dengan kedalaman 10km. Saya rasa cukup kencang, bahkan gemuruhnya sampai terdengar. Biasanya kalau ada lindu saya gak kerasa, tapi ini jelas kencang. Kami yang sedang di ruang makan pun segera berhambur keluar rumah.

(more…)